Ekonomi – Meski sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir, Bitcoin diprediksi memiliki potensi besar untuk kembali menguat dengan volatilitas yang lebih terkendali dalam beberapa bulan mendatang. Analisis terbaru menunjukkan tren positif ini dapat menjadi peluang menarik bagi investor jangka menengah.
Harga mata uang kripto terbesar ini sempat tertekan akibat aksi likuidasi investor besar dan arus keluar dari ETF Bitcoin. Setelah mencapai rekor tertinggi di atas US$124.000 pada 14 Agustus, harga Bitcoin terkoreksi sekitar 12% dan sempat menyentuh level terendah US$108.700 pada Jumat pagi, terendah sejak 9 Juli.

Namun, sebuah analisis yang dikutip dari Coin Telegraph menunjukkan potensi kenaikan rata-rata hingga 44% menjelang Natal. Ekonom jaringan Timothy Peterson melalui platform X memprediksi kinerja positif untuk BTC/USD pada kuartal IV.
Secara historis, September memang menjadi bulan yang kurang menggembirakan bagi Bitcoin. Namun, Peterson tetap optimis dengan membandingkan pergerakan siklus bull market sebelumnya.
"Tepat empat bulan menuju Natal. Bagaimana kinerja Bitcoin dalam periode ini? Naik 70% dari waktu ke waktu dengan rata-rata kenaikan 44%," tulis Peterson dalam laporannya. Perhitungan ini berpotensi mendorong harga Bitcoin hingga US$160.000 pada akhir tahun 2025, menurut data Cointelegraph Markets Pro dan TradingView.
Peterson mengingatkan bahwa proyeksi ini lebih bersifat panduan. Ia menilai ada beberapa tahun yang tidak relevan dengan kondisi pasar saat ini, seperti 2017, 2018, 2020, dan 2022. Skenario tahun 2025 cenderung lebih positif meskipun dengan volatilitas yang lebih rendah.
Sementara itu, beberapa analis lain melihat pelemahan harga saat ini sebagai fase normal menjelang September yang secara historis kurang baik bagi Bitcoin. Trader Donny berpendapat bahwa BTC/USD sedang "frontrunning" tren September, mirip dengan pola yang terlihat pada bull market 2017.
Menurut Donny, meskipun skala pergerakannya berbeda, hasil akhirnya tetap menunjukkan arah kenaikan yang lebih tinggi. Ia juga menambahkan bahwa Bitcoin saat ini meniru pola emas setelah periode ketertinggalan, sebuah hubungan klasik yang terus berlanjut dalam beberapa tahun terakhir.





