Ekonomi – CEO bank terkemuka di Asia Tenggara, Tan Su Shan, memberikan peringatan kepada para investor untuk bersiap menghadapi potensi gejolak di pasar keuangan global. Peringatan ini muncul di tengah kekhawatiran valuasi saham-saham di Amerika Serikat yang dinilai semakin tinggi. Tan Su Shan, yang kini menjabat sebagai CEO DBS, menekankan bahwa volatilitas akan menjadi isu utama dalam periode mendatang.
Menurutnya, pasar telah menunjukkan fluktuasi yang signifikan, baik dalam ekuitas, suku bunga, maupun nilai tukar mata uang asing. Ia memprediksi bahwa volatilitas ini akan terus berlanjut. Kekhawatiran utama tertuju pada valuasi saham-saham teknologi raksasa AS, yang dikenal dengan sebutan "Magnificent Seven," yang meliputi Amazon, Alphabet, Meta, Apple, Microsoft, Nvidia, dan Tesla.

Tan Su Shan menyoroti bahwa triliunan dolar AS terikat pada tujuh saham tersebut. Konsentrasi investasi yang begitu besar memunculkan pertanyaan tentang potensi pecahnya gelembung investasi ini. Para pemimpin industri keuangan global, dalam forum Global Financial Leaders’ Investment Summit di Hong Kong, juga menyoroti potensi koreksi pasar. Bahkan, CEO Morgan Stanley, Ted Pick, memperkirakan penurunan pasar sebesar 10%-20% dalam 12 hingga 24 bulan ke depan.
Namun, Tan Su Shan melihat koreksi pasar sebagai hal yang positif dan sehat, sebagai bagian alami dari dinamika pasar. Peringatan ini sejalan dengan pandangan Dana Moneter Internasional (IMF) dan sejumlah gubernur bank sentral dunia, termasuk Jerome Powell (The Fed) dan Andrew Bailey (Bank of England), yang menyoroti risiko dari harga saham yang terlalu tinggi.
Tan Su Shan menyarankan investor untuk memperkuat strategi diversifikasi, terutama di tengah ketidakpastian global. Diversifikasi penting dalam portofolio investasi, rantai pasokan, dan distribusi permintaan. Ia juga menilai bahwa Asia, khususnya Singapura, akan menjadi tujuan investasi yang menarik di masa depan karena supremasi hukum, sistem keuangan yang transparan dan terbuka, serta stabilitas politik yang dimilikinya. Singapura dianggap sebagai tempat yang baik untuk berinvestasi dan melakukan diversifikasi.





