Ekonomi – Sektor multifinance menunjukkan kinerja yang kurang menggembirakan. Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa piutang perusahaan multifinance hanya tumbuh tipis 1,07% secara tahunan (year-on-year/yoy), mencapai Rp 507,14 triliun pada September 2025.
Pertumbuhan ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada September 2024, piutang multifinance masih mampu mencatatkan pertumbuhan sebesar 9,39% yoy. Bahkan, secara bulanan pun terlihat adanya perlambatan, di mana pada Agustus 2025 pertumbuhan tercatat 1,26% yoy.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan OJK, Agusman, menjelaskan bahwa profil risiko multifinance per September 2025 berada pada level 2,47% untuk NPF gross dan 0,84% untuk NPF net, dengan gearing ratio 2,17x atau masih di bawah batas maksimal 10x.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, mengaitkan kondisi ini dengan belum pulihnya daya beli masyarakat. Menurutnya, meskipun likuiditas telah dikucurkan ke perbankan, efeknya membutuhkan waktu untuk meresap ke sektor riil.
"Walaupun kucuran dana sudah turun kan, ya kita tetap tergantung dari customer atau daya beli, daya belinya ini yang turun. Itu kan (solusinya) harus ada produksi, ciptakan lapangan pekerjaan. Jadi perlu beberapa waktu ya," ujar Suwandi kepada ekonomi.or.id pada Selasa (14/10/2025).
Suwandi menambahkan bahwa siklus ekonomi membutuhkan waktu untuk menghasilkan dampak yang signifikan. Pinjaman yang disalurkan baru akan terasa manfaatnya jika mendorong aktivitas produksi dan penjualan, yang pada gilirannya akan efektif jika masyarakat memiliki pekerjaan dan penghasilan yang memadai untuk berbelanja.
Lebih lanjut, Suwandi mengungkapkan bahwa para pelaku industri saat ini tengah menantikan langkah konkret dari Menteri Keuangan Purbaya terkait insentif yang diharapkan dapat menggairahkan kembali dunia usaha.
"Ini juga kita lagi tunggu dari Pak Purbaya, katanya akan ada, tidak dikenakan pajak, ini dan itunya dan segalanya. Itu ya mungkin salah satu yang membuat nanti orang giat kembali untuk berusaha, terus nanti bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan lain-lain," pungkasnya.





