Ekonomi – Perusahaan keluarga (family office) kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, dipicu kekhawatiran terhadap depresiasi dolar Amerika Serikat. Hal ini terungkap dalam survei RBC Wealth Management dan Campden Wealth, pasca kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden AS Donald Trump.
Survei yang melibatkan 141 perusahaan pengelola kekayaan keluarga ultra-kaya di Amerika Utara ini menunjukkan perubahan signifikan dalam strategi investasi. Mayoritas responden, 52%, meyakini bahwa uang tunai dan aset likuid akan menjadi sumber imbal hasil terbaik dalam 12 bulan mendatang. Kecerdasan buatan (AI) juga menarik perhatian, dengan lebih dari 30% responden melihatnya sebagai peluang menjanjikan.

Pergeseran ini kontras dengan tahun sebelumnya, di mana ekuitas pertumbuhan dan industri pertahanan menjadi primadona. Family office juga menurunkan ekspektasi imbal hasil tahun 2025 menjadi rata-rata 5%, jauh di bawah angka 11% pada 2024. Bahkan, 15% responden memprediksi imbal hasil negatif.
Peningkatan likuiditas menjadi prioritas utama investasi tahun 2025, dipilih oleh hampir separuh family office. Tahun lalu, diversifikasi portofolio menjadi pilihan teratas. Survei yang dilakukan dari April hingga Agustus ini mencerminkan dampak gejolak pasar akibat tarif dan ketegangan geopolitik, menurut Bill Ringham dari RBC Wealth Management.
Meskipun pasar AS telah pulih, kekhawatiran terhadap depresiasi dolar AS tetap menghantui. Sebanyak 52% responden survei menyebutkan hal ini sebagai risiko pasar yang mungkin terjadi. Nilai tukar dolar telah turun hampir 9% sejak awal tahun, dan bank-bank seperti UBS memperkirakan penurunan akan terus berlanjut. Selain itu, kinerja lesu di sektor ekuitas swasta dan modal ventura juga menjadi perhatian.
Namun, family office tidak hanya berfokus pada mitigasi risiko. Peningkatan alokasi dana ke kas juga merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan peluang investasi yang mungkin muncul di masa depan.
"Mereka memiliki visi jangka panjang tentang warisan dan keluarga mereka," kata Ringham, yang mengarahkan strategi kekayaan pribadi untuk divisi RBC AS. "Dengan melakukan ini, mereka mungkin menciptakan modal untuk memanfaatkan peluang yang mereka lihat muncul di pasar."
Optimisme yang berhati-hati ini tercermin dari rencana alokasi aset. Meskipun hanya sekitar 3% family office yang berencana meningkatkan alokasi dana ke kas dan aset likuid, 20% ingin menambah investasi di ekuitas swasta langsung, dan 13% di dana ekuitas swasta. Investasi di pasar swasta dianggap penting untuk membangun kekayaan jangka panjang yang melampaui inflasi dan menopang kebutuhan keluarga yang terus bertumbuh.





