Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhuyung ke zona merah pada perdagangan hari ini, Kamis (21/8/2025), bahkan sempat anjlok lebih dari 1% ke level 7.857,22. Padahal, sentimen positif penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) baru saja bergulir. Anehnya, jumlah saham yang menghijau justru lebih banyak, mencapai 360 saham berbanding 319 saham yang merugi.
BI sebelumnya mengumumkan penurunan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5%. Langkah ini diambil untuk menjaga inflasi tetap terkendali, stabilitas rupiah terjaga, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Reaksi pasar pun sempat positif, dengan IHSG melonjak 1,03% setelah pengumuman tersebut.

Namun, euforia itu sirna dengan cepat. Pagi ini, IHSG dibuka langsung melemah dan terus tertekan sepanjang sesi pertama. Menurut data Refinitiv, penyebab utama terpuruknya IHSG adalah saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang ambles hingga 14,94%.
Saham milik Grup Sinar Mas ini menjadi pemberat utama indeks dengan kontribusi poin negatif sebesar 53,09. Jatuhnya DSSA dipicu oleh keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memangkas bobot Foreign Inclusion Factor (FIF) saham tersebut dari 0,25 menjadi 0,13. Penyesuaian ini berpotensi mengurangi aliran dana asing ke DSSA.
MSCI menjelaskan bahwa pemangkasan bobot FIF dilakukan berdasarkan masukan dari pelaku pasar terkait ketidakpastian free float saham DSSA. Dengan kapitalisasi pasar yang jumbo, mencapai Rp 605,9 triliun, pergerakan DSSA memiliki dampak signifikan terhadap IHSG.
Selain DSSA, saham-saham milik Prajogo Pangestu seperti BREN, BRPT, dan TPIA juga turut membebani indeks. Meskipun ada beberapa saham seperti AMMN, UNTR, TLKM, ASII, dan AMRT yang mencoba menahan penurunan, namun kekuatan mereka tidak cukup untuk mengimbangi tekanan dari DSSA dan saham-saham lainnya. Kondisi ini membuat IHSG sulit untuk kembali ke zona hijau.





