Ekonomi – Pemerintah Indonesia tengah bersiap menerbitkan surat utang berdenominasi Renminbi, yang dikenal sebagai Dim Sum Bond, di pasar global. Langkah ini menyusul kesuksesan penerbitan perdana Kangaroo Bond dalam denominasi Dolar Australia (AUD) pada awal Agustus lalu.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menyatakan bahwa penerbitan Dim Sum Bond menjadi prioritas setelah keberhasilan Kangaroo Bond. Tujuannya adalah untuk memperluas basis investor di kawasan Asia dan memperkuat diversifikasi portofolio pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Meskipun tanggal pasti penerbitan belum diumumkan, pemerintah menekankan bahwa waktu penerbitan akan sangat bergantung pada kondisi pasar obligasi dan kebutuhan pembiayaan APBN. Pemerintah akan terus menerapkan strategi pembiayaan yang hati-hati, fleksibel, dan terukur, dengan mempertimbangkan pemilihan waktu penerbitan, jenis instrumen, serta keseimbangan komposisi mata uang.
Sebelumnya, penerbitan perdana Kangaroo Bond pada 7 Agustus 2025, dengan setelmen pada 14 Agustus 2025, mendapat sambutan positif dari investor global. Permintaan mencapai AUD 8 miliar, sepuluh kali lipat dari total nominal setelmen sebesar AUD 800 juta. Sepertiga investor berasal dari Australia, sementara sisanya dari Asia, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Inggris.
Minat investor yang tinggi terhadap Kangaroo Bond memungkinkan pemerintah menetapkan tingkat imbal hasil yang kompetitif, yaitu 4,427% untuk tenor 5 tahun dan 5,380% untuk tenor 10 tahun. Transaksi perdana ini dilakukan melalui program Australian Medium-Term Notes (AMTN) dan hasilnya akan digunakan untuk pembiayaan APBN 2025. Obligasi ini memperoleh peringkat Baa2 dari Moody’s, BBB dari Standard & Poor’s, dan BBB dari Fitch.





