Ekonomi – Rupiah kembali menunjukkan performa yang kurang menggembirakan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (17/7/2025). Pelemahan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mengambil kebijakan pemangkasan suku bunga.
Data Refinitiv menunjukkan rupiah berada di level Rp16.325 per dolar AS, terdepresiasi 0,37% sejak pembukaan pasar. Rupiah telah mengalami pelemahan selama empat hari berturut-turut, mencapai titik terlemah sejak 24 Juni lalu.

Pelemahan rupiah ini terjadi bersamaan dengan penguatan indeks dolar AS yang naik 0,44% ke level 98,71 pada pukul 15.00 WIB. Selain penguatan dolar AS, sentimen negatif dari ketidakpastian ekonomi global juga menjadi faktor pendorong pelemahan rupiah, yang memaksa BI untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter & Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah sejalan dengan pelemahan mata uang regional lainnya. "Terutama dipengaruhi oleh masih terus berlanjutnya ketidakpastian sehubungan dengan perkembangan akhir kebijakan tarif Amerika kepada berbagai negara," ujarnya kepada ekonomi.or.id.
Erwin menambahkan bahwa ketegangan antara Presiden Trump dan Ketua The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, juga memengaruhi sentimen pasar. "Ini juga menjadi perhatian pasar di mana berkembang informasi pengusulan pemecatan Powell yang kemudian dibantah oleh Presiden Trump," jelasnya.
Mengingat tekanan terhadap rupiah berasal dari sentimen eksternal, BI mengambil langkah-langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar offshore dan spot melalui transaksi NDF, serta di pasar domestik melalui transaksi spot dan DNDF, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini dilakukan untuk menjaga pergerakan rupiah sesuai dengan fundamentalnya.





