Ekonomi – Pertumbuhan penyaluran kredit perbankan di Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Data terbaru menunjukkan bahwa realisasi penyaluran kredit semakin menjauh dari target yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI), yaitu antara 8% hingga 11%. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa hingga Oktober 2025, pertumbuhan kredit hanya mencapai 7,36% secara tahunan (year on year/yoy), melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatatkan pertumbuhan 7,7% yoy.
Perry menjelaskan bahwa perlambatan ini disebabkan oleh lemahnya permintaan, yang dipengaruhi oleh sikap pelaku usaha yang cenderung menahan ekspansi, optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi, serta suku bunga kredit yang masih relatif tinggi. Meskipun BI telah menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 125 basis poin sejak awal tahun 2025, penurunan suku bunga kredit perbankan hanya mencapai 20 bps, dari 9,20% menjadi 9,00% pada Oktober 2025.

Selain itu, Perry juga menyoroti tingginya fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan), yang mencapai Rp2.450,7 triliun atau 22,97% dari plafon kredit yang tersedia pada Oktober 2025. Meskipun kapasitas pembiayaan bank dinilai masih memadai, dengan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang meningkat menjadi 29,47% dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 11,48% (yoy), minat penyaluran kredit perbankan secara umum masih cukup baik.
Namun, persyaratan pemberian kredit (lending requirement) untuk segmen kredit konsumsi dan UMKM justru semakin ketat, seiring dengan sikap kehati-hatian bank akibat tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut. Kondisi ini berdampak pada pertumbuhan kredit UMKM pada Oktober 2025 yang turun menjadi -0,11% (yoy).
Meskipun demikian, Perry tetap optimis bahwa pertumbuhan kredit hingga akhir 2025 akan berada pada batas bawah kisaran 8-11% dan akan meningkat pada tahun 2026. "Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan KSSK untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan serta memperbaiki struktur suku bunga," ujar Perry, seperti dikutip ekonomi.or.id.





