Ekonomi – Meraih kesuksesan finansial seringkali dianggap sebagai puncak kebahagiaan, namun bagi sebagian orang, realitasnya bisa sangat berbeda. Mike dan Kass Lazerow, pasangan pengusaha asal New York, merasakan kehampaan mendalam setelah menjual perusahaan mereka, Buddy Media, ke Salesforce dengan nilai fantastis US$745 juta atau sekitar Rp12,3 triliun.
Momen yang seharusnya menjadi perayaan euforia, justru menjadi titik balik yang mengejutkan. Kass Lazerow, kini berusia 54 tahun, mengungkapkan bahwa mereka merasa "mati rasa" setelah pesta mewah perpisahan untuk karyawan. "Kami naik Uber untuk pulang… dan Mike menatap saya dan berkata, ‘Oke, jadi besok anak-anak ada janji dengan dokter mana?’" kenangnya.

Perjalanan bisnis mereka dimulai pada tahun 2007 dengan pendirian Golf.com. Kerja keras tanpa henti membawa mereka pada ide bisnis Buddy Media. Setelah beberapa kali perubahan strategi, mereka menemukan model bisnis yang sukses besar. Saat penjualan perusahaan, Buddy Media menghasilkan pendapatan tahunan yang mencapai Rp825 miliar.
Kass mengaku membutuhkan waktu setahun penuh dan bantuan terapi untuk benar-benar memahami pencapaian mereka. "Saya tidak ingin membandingkannya dengan trauma sungguhan, tapi itu seperti PTSD, karena kami tidak bisa memprosesnya sekaligus," ujarnya. Mike menambahkan, "Anda tetap sama seperti dulu sebelum menjual bisnis."
Kehilangan tujuan sebagai pengusaha menjadi masalah utama. Mike, yang sebelumnya menjabat sebagai CEO Buddy Media, beralih ke Salesforce, namun jadwal perjalanan yang padat mengganggu kesehatan dan waktu bersama keluarga. Kass mencoba terlibat dalam dewan amal, namun tetap merasa ada kekosongan.
"Kegembiraan dalam menciptakan tema, membangun bisnis, mendapatkan pelanggan, dan merekrut orang, semua hal itu benar-benar mengasyikkan," kata Mike, merindukan dinamika kewirausahaan.
Kisah serupa juga dialami oleh Jyoti Bansal, yang merasa "hari paling menyedihkan" saat menjual AppDynamics ke Cisco seharga Rp61,05 triliun. Jake Kassan juga kehilangan motivasi dan identitas setelah menjual bisnis jam tangannya senilai Rp1,6 triliun.
Untuk mengatasi perasaan tersebut, mereka kembali mencari gairah baru. Kassan fokus membangun kanal YouTube-nya, sementara Bansal mendirikan startup bernama Harness. Kass dan Mike kembali ke dunia kewirausahaan dengan berinvestasi pada perusahaan lain dan berbagi pengalaman dalam buku mereka, "Shoveling S."
"Rasanya saya tidak sanggup lagi mengelola perusahaan mandiri," kata Kass. "Kedua perusahaan itu dan bagian kepemimpinan karyawannya, yang saya anggap sangat, sangat serius, benar-benar menguras tenaga saya." Kisah mereka menjadi pengingat bahwa kesuksesan finansial bukanlah jaminan kebahagiaan, dan penting untuk terus mencari tujuan dan makna dalam hidup.





