EKONOMI – 28 Juni 2026 | Harga Ayam di Pasar Ikut Anjlok Jadi Rp 35.000/Kg, Ini Biang Keroknya menimbulkan kehebohan di kalangan konsumen dan pelaku usaha. Penurunan tajam harga daging unggas ini tidak hanya terasa di tingkat ritel, tetapi juga merambat ke level peternak, mengguncang rantai pasokan secara keseluruhan.
Latar Belakang Penurunan Harga
Sejak awal tahun, data pasar menunjukkan tren penurunan harga ayam secara bertahap. Namun, pada pekan terakhir, harga mencapai titik terendah, yakni Rp 35.000 per kilogram. Fenomena ini menjadi sorotan media ekonomi nasional karena memengaruhi daya beli masyarakat, terutama di daerah dengan tingkat inflasi tinggi.
Para pedagang pasar tradisional melaporkan bahwa permintaan tetap stabil, bahkan sedikit meningkat, namun pasokan melimpah. Kondisi ini memaksa mereka menurunkan harga untuk menarik pembeli, sehingga Harga Ayam di Pasar Ikut Anjlok Jadi Rp 35.000/Kg, Ini Biang Keroknya menjadi fakta yang sulit dihindari.</n
Berbagai analis menyebutkan bahwa penurunan harga ini berawal dari faktor produksi yang mengalami perubahan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Faktor-faktor Penyebab
1. Kelebihan Pasokan dari Peternakan Skala Besar
Peternakan modern di Jawa Barat dan Jawa Tengah meningkatkan output produksi ayam broiler hingga 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini dipicu oleh adopsi teknologi pakan berbasis jagung impor yang lebih murah.
2. Penurunan Harga Pakan
Harga jagung dan dedak beras mengalami penurunan sekitar 15% akibat melimpahnya produksi domestik dan penurunan permintaan di pasar internasional. Karena pakan menyumbang hingga 70% biaya produksi, penurunan ini langsung menurunkan biaya produksi ayam.
3. Kebijakan Pemerintah tentang Impor
Pemerintah menurunkan bea masuk untuk bahan baku pakan selama tiga bulan terakhir guna menstabilkan harga pangan. Kebijakan ini secara tidak langsung menurunkan biaya produksi peternak, yang selanjutnya diteruskan ke pasar.
4. Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah
Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar mengurangi biaya impor pakan, sehingga peternak dapat memperoleh bahan baku dengan harga lebih kompetitif.
5. Musim Panen Padi yang Melimpah
Panen padi melimpah menurunkan harga dedak, salah satu komponen penting pakan ayam, sehingga menambah tekanan penurunan harga di pasar.
Dampak Terhadap Stakeholder
Penurunan Harga Ayam di Pasar Ikut Anjlok Jadi Rp 35.000/Kg, Ini Biang Keroknya memberikan efek beragam:
- Konsumen: Merasakan manfaat langsung melalui belanja makanan pokok yang lebih terjangkau.
- Peternak Kecil: Menghadapi tekanan margin keuntungan yang menipis karena tidak dapat menurunkan biaya produksi secepat peternak besar.
- Pedagang Retail: Memiliki peluang meningkatkan volume penjualan, namun harus mengatur stok agar tidak menumpuk.
- Pemerintah: Dapat mengklaim keberhasilan kebijakan stabilisasi pangan, namun harus mengawasi keseimbangan antara peternak kecil dan besar.
Prospek Harga di Masa Depan
Para ahli memperkirakan bahwa harga ayam dapat tetap berada pada level Rp 35.000‑40.000 per kilogram selama kuartal berikutnya, asalkan pasokan tetap melimpah dan tidak ada gangguan pada rantai pasokan pakan. Namun, risiko kenaikan harga tetap ada jika terjadi penurunan produksi pakan akibat cuaca ekstrem atau kenaikan tarif impor.
Secara keseluruhan, Harga Ayam di Pasar Ikut Anjlok Jadi Rp 35.000/Kg, Ini Biang Keroknya mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh faktor produksi, kebijakan pemerintah, dan kondisi makroekonomi. Konsumen menikmati harga lebih rendah, sementara peternak harus menyesuaikan strategi produksi untuk mempertahankan profitabilitas.
Dengan pemantauan yang cermat dan kebijakan yang responsif, diharapkan stabilitas harga dapat terjaga, mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus melindungi kesejahteraan semua pelaku industri.






