Ekonomi – Harga emas terus menunjukkan tren positif sepanjang tahun ini, dan bahkan diprediksi akan semakin meroket hingga mendekati level US$ 4.000 per troy ons pada akhir tahun. Proyeksi ambisius ini datang dari J.P. Morgan Research, setelah emas mencatatkan lonjakan harga yang signifikan, hampir 40% sejak awal tahun.
Pada Jumat (12/9/2025) lalu, emas sempat menyentuh harga tertinggi di US$3.642 atau sekitar Rp57,73 juta, melampaui ekspektasi awal dari J.P. Morgan Research.

Meskipun pasar saat ini diwarnai ketidakpastian kebijakan dan risiko geopolitik, J.P. Morgan Research tetap optimis bahwa emas dapat mencapai US$4.000 atau Rp65,58 juta per troy ons mendekati kuartal kedua 2026. Keyakinan ini didasari oleh pengamatan terhadap pergeseran struktural dalam permintaan emas dan faktor-faktor lain yang mendorong kenaikan harga. Bahkan, pada akhir tahun depan, harga logam mulia ini diperkirakan dapat menembus US$ 4.250 per troy ons.
"Terutama dengan potensi resesi dan risiko perdagangan serta tarif yang berkelanjutan, kami sangat yakin akan prospek penguatan struktural emas yang berkelanjutan dan menaikkan target harga kami," ujar Kepala Strategi Komoditas Global di J.P. Morgan, Natasha Kaneva, dalam keterangannya, Senin (15/9/2025).
Emas telah mencetak beberapa rekor tertinggi pada tahun 2024 dan menembus batas US$2.900/troy ons untuk pertama kalinya pada bulan Februari tahun ini. Kenaikan ini terjadi seiring dengan investor yang menghadapi volatilitas pasar akibat kebijakan tarif AS dan meningkatnya risiko geopolitik.
Secara tradisional, melemahnya dolar AS dan suku bunga AS yang lebih rendah meningkatkan daya tarik emas. Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik juga menjadi pendorong positif bagi emas, karena statusnya sebagai aset safe haven dan kemampuannya untuk mempertahankan nilai.
Emas memiliki korelasi yang rendah dengan kelas aset lainnya, sehingga dapat berfungsi sebagai asuransi selama pasar jatuh dan masa-masa tekanan geopolitik. Logam mulia ini berfungsi baik sebagai lindung nilai terhadap penurunan nilai tukar atau perlindungan terhadap hilangnya daya beli mata uang akibat inflasi atau penurunan nilai tukar. Selain itu, emas memiliki peran tradisional sebagai pesaing non-imbal hasil bagi obligasi pemerintah AS dan reksa dana pasar uang.
"Kami masih berpendapat risiko cenderung lebih tinggi dari perkiraan kami jika permintaan terus melampaui ekspektasi kami. Bagi investor, emas tetap menjadi salah satu lindung nilai paling optimal untuk kombinasi unik stagflasi, resesi, penurunan nilai tukar, dan risiko kebijakan AS yang dihadapi pasar pada tahun 2025 dan 2026," kata Kepala Strategi Logam Dasar dan Mulia di J.P. Morgan, Gregory Shearer.





