Awas! Bankir Top Dunia Ungkap Ancaman "Bom Waktu" Kredit!

Toni Rasta

Awas! Bankir Top Dunia Ungkap Ancaman "Bom Waktu" Kredit!

Ekonomi – CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, baru-baru ini melontarkan peringatan keras mengenai potensi "bom waktu" yang berasal dari masalah kredit macet di pasar Amerika Serikat (AS). Kekhawatiran ini muncul setelah mencuatnya kasus kegagalan perusahaan pembiayaan mobil Tricolor dan produsen suku cadang kendaraan First Brand.

Dimon mengibaratkan masalah ini seperti menemukan seekor kecoak, yang mengindikasikan kemungkinan adanya masalah serupa yang tersembunyi. Kekhawatiran ini terbukti bukan isapan jempol belaka.

 Awas! Bankir Top Dunia Ungkap Ancaman "Bom Waktu" Kredit!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Gelombang kekhawatiran ini memicu penurunan saham sejumlah bank regional AS hingga 6% pada 16 Oktober 2025. Pemicunya adalah gugatan yang diajukan oleh dua bank menengah, Western Alliance Bancorporation Arizona dan Zions Bancorporation dari Utah, untuk memulihkan pinjaman senilai US$160 juta dari jaringan dana investasi yang dituduh melakukan penipuan. Meski tuduhan tersebut telah dibantah oleh pihak peminjam, Cantor Group, sentimen negatif telah terlanjur menyebar.

Investor kini menjadi lebih sensitif terhadap tekanan baru di sektor perbankan, terutama pada bank berukuran menengah. Beberapa fokus utama investor saat ini adalah:

  • Tekanan pada pasar pendanaan antarbank: Suku bunga pinjaman antarbank melonjak sekitar 0,25 poin di atas suku bunga acuan The Fed pada Oktober lalu, mencapai level tertinggi dalam enam tahun terakhir. Hal ini menandakan peningkatan kebutuhan likuiditas dan kehati-hatian bank dalam memberikan pinjaman dengan biaya murah.
  • Peran kredit swasta: Investor juga menyoroti peran kredit swasta yang semakin berpengaruh dalam pembiayaan korporasi, termasuk perusahaan menengah berisiko. Manajer aset pemberi kredit semakin aktif sejak krisis keuangan 2007-2009.
  • Kerugian yang belum terealisasi: Kenaikan suku bunga jangka panjang menyebabkan kerugian yang belum terealisasi (unrealized losses) pada neraca bank-bank AS. Krisis kecil sempat terjadi pada tahun 2023 akibat isu ini, yang menyebabkan kejatuhan Silicon Valley Bank. Meskipun kerugian ini telah menurun dari US$690 miliar pada tahun 2022 menjadi US$395 miliar pada tahun ini, jumlah tersebut masih signifikan dan dapat membuat bank rentan terhadap pinjaman baru dalam jumlah besar.

Permasalahan ini telah menimbulkan kecemasan di berbagai pihak. Wall Street khawatir bahwa kredit macet dapat menjadi pertanda masalah yang lebih besar, sementara investor waspada mencari tanda-tanda masalah baru di pasar keuangan AS. Informasi ini dilansir dari ekonomi.or.id.

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar