Astra Ungkap Jurus Jitu Lawan Mobil Listrik China!

Toni Rasta

Astra Ungkap Jurus Jitu Lawan Mobil Listrik China!

Ekonomi – PT Astra International Tbk (ASII) memaparkan strategi perusahaan dalam menghadapi serbuan kendaraan listrik (EV) dari Tiongkok serta kondisi industri otomotif nasional yang tengah mengalami penurunan. Penurunan pendapatan sektor otomotif Astra pada paruh pertama tahun ini menjadi perhatian, seiring dengan semakin banyaknya mobil listrik asal China yang membanjiri pasar.

Menanggapi hal ini, Direktur Astra, Henry Tanoto, menyatakan bahwa persaingan adalah hal yang wajar dalam industri otomotif, dan justru memberikan dampak positif bagi konsumen serta industri secara keseluruhan. Strategi utama Astra, menurutnya, adalah konsisten menyediakan teknologi dan layanan yang sesuai dengan beragam kebutuhan pelanggan di Indonesia.

Astra Ungkap Jurus Jitu Lawan Mobil Listrik China!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tanoto menambahkan, selama 20 tahun terakhir, Astra berhasil mempertahankan pangsa pasar di atas 50% berkat konsistensi tersebut. Dalam hal penyediaan produk, Astra berfokus pada pemahaman mendalam mengenai kebutuhan konsumen, termasuk mempertimbangkan perbedaan daya beli di berbagai wilayah, mulai dari kota besar hingga daerah pedesaan.

Kebutuhan masyarakat akan mobil juga bervariasi, mulai dari mobil berkapasitas lima hingga tujuh penumpang. Selain itu, kesiapan infrastruktur di setiap wilayah juga menjadi faktor penting. Saat ini, infrastruktur EV lebih siap di kota-kota besar dibandingkan kota-kota kecil.

"Saat ini, penetrasi EV yang mencapai 10% hampir 90% terkonsentrasi di Jakarta dan kota-kota besar," ujar Tanoto dalam Public Expose ASII 2025 yang diselenggarakan secara virtual, Rabu (27/8/2025).

Menurutnya, konsumen di wilayah tersebut cenderung merupakan pembeli tambahan yang tidak terlalu sensitif terhadap nilai jual kembali mobil EV yang cenderung menurun. Penjualan mobil dengan mesin pembakaran internal (ICE) dan mobil hybrid, yang berkontribusi 90% terhadap penjualan otomotif nasional, tersebar lebih merata di berbagai wilayah.

Menyadari hal ini, Astra menyediakan lini produk yang lengkap, mulai dari ICE, hybrid, hingga battery electric vehicle (BEV). Pada ajang GIIAS 2025, Astra meluncurkan dua produk BEV baru, yaitu New BZ4x yang diproduksi secara lokal dan Urban Cruiser BEV. Selain itu, Astra juga meluncurkan Rocky Hybrid dengan harga di bawah Rp300 juta untuk melengkapi jajaran produk hybrid yang sudah ada.

"Kami juga sedang menyiapkan produk hybrid lainnya yang akan berada di segmen pasar massal," imbuh Tanoto.

Astra juga berupaya menyediakan layanan yang sesuai dengan kebutuhan otomotif masyarakat yang beragam, termasuk ekosistem pembiayaan, asuransi kendaraan, layanan purna jual, dan tukar tambah (trade-in).

"Ekosistem layanan inilah yang membuat nilai jual kembali produk Astra tetap terjaga dengan baik," tegas Tanoto.

Dengan demikian, Astra yakin dapat menyelaraskan portofolio produk dan layanan sesuai dengan perubahan kebutuhan mobilitas masyarakat. Perusahaan juga optimistis dapat beradaptasi dengan cepat dan tumbuh di tengah transisi energi di industri otomotif.

Industri otomotif saat ini menghadapi sejumlah tantangan, termasuk penurunan daya beli masyarakat dan perang harga akibat menjamurnya merek kendaraan listrik baru asal China. Astra pun turut merasakan dampak dari tantangan tersebut.

Sektor otomotif menjadi pemberat kinerja keuangan Astra pada semester I-2025. Sektor yang berkontribusi 38% terhadap total pendapatan perusahaan ini mengalami penurunan 8,13% secara tahunan menjadi Rp61,71 triliun.

Pada sisi bottom line, Astra membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik induk sebesar Rp15,52 triliun, turun 2,15% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp15,86 triliun. Penurunan laba ini terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan yang tipis, hanya 1,81%. Total pendapatan Astra pada semester pertama 2025 mencapai Rp162,86 triliun, dibandingkan dengan Rp159,97 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar