Ekonomi – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), bank pertama milik Republik Indonesia setelah kemerdekaan, kini berusia 79 tahun. Bank berlogo 46 ini, yang kini menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia, didirikan oleh R.M. Margono Djojohadikoesoemo, kakek dari Presiden Prabowo Subianto.
Saat ini, BNI memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp152,87 triliun, menempatkannya sebagai bank nasional terbesar keempat. Mengutip laman resmi BNI, pendirian bank ini berawal sebagai bank sentral dengan nama "Bank Negara Indonesia" berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 2 tahun 1946 tanggal 5 Juli 1946.

Berdasarkan Undang-Undang No. 17 tahun 1968, BNI ditetapkan menjadi "Bank Negara Indonesia 1946" dan statusnya berubah menjadi Bank Umum Milik Negara.
Peran Margono Djojohadikoesoemo
Margono, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung, berpendapat bahwa Indonesia memerlukan bank sentral yang dibangun dari usaha bangsa sendiri, bukan warisan bank asing.
Pemikiran ini muncul karena sejak masa kolonial, Indonesia tidak memiliki bank nasional yang dibuat oleh rakyat Indonesia. Kemerdekaan dianggap sebagai momentum yang tepat untuk mendirikan bank sentral baru.
Namun, Menteri Kemakmuran Soerachman memiliki pandangan yang berbeda. Menurutnya, seperti dikutip dari buku "Dari De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia" (2014), Indonesia sebaiknya menghidupkan kembali De Javasche Bank (DJB) buatan Belanda. Ia berpendapat bahwa bank tersebut sudah lama mengawal ekonomi negara dan memiliki banyak tenaga ahli.
Di tengah perdebatan tersebut, Belanda kembali ke Indonesia untuk menjajah kedua kalinya. "Belanda ingin menghidupkan kembali DJB sebagai bank sentral berdasarkan izin Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 2 Januari 1946," tulis penyusun buku "Semarang Sebagai Simpul Ekonomi" (2022).
Keberadaan DJB mengancam kedaulatan ekonomi negara, terutama karena DJB hendak mencetak dan mengedarkan uang buatan kompeni untuk mengacaukan ekonomi Indonesia. Hal ini semakin mendorong upaya pendirian bank sentral baru.
Situasi ini membuat pendapat Margono semakin relevan. Kakek dari Prabowo Subianto ini telah bergerak cepat untuk merealisasikan gagasannya dan mendapatkan restu dari Soekarno dan Hatta untuk mendirikan Bank Negara Indonesia sejak September 1945, serta mengurusi yayasan perbankan milik negara bernama Yayasan Poesat Bank Indonesia.
Pada 5 Juli 1946, pemerintah resmi mendirikan Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai bank sentral berdasarkan Perpu No.2 tahun 1946. Selain sebagai bank sentral, BNI juga diberi wewenang untuk melakukan kegiatan sebagai bank umum, seperti pemberian kredit, penerbitan obligasi, dan penerimaan simpanan.
Margono sendiri menjadi pemimpin awal BNI, dengan modal awal dari patungan rakyat Indonesia. BNI juga harus berjuang melawan Belanda di bidang ekonomi yang semakin agresif dengan ekspansi DJB. BNI menjadi ujung tombak pertempuran di sektor ekonomi melawan De Javasche Bank.
"Perang" antara keduanya menyebabkan dualisme bank sentral di Indonesia. Situasi ini semakin memanas ketika BNI menerbitkan uang dengan nama Oeang Republik Indonesia (ORI) untuk menyaingi uang buatan DJB, yang mengeluarkan uang NICA, sehingga terjadi peperangan mata uang.
Namun, pertempuran melawan Belanda yang semakin intens membuat tugas BNI sebagai bank sentral tidak optimal. Banyak cabang BNI yang tutup dan kekayaannya dirampas Belanda. Kegagalan ini disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu agresi Belanda.
Setelah perang melawan Belanda selesai pada tahun 1949, BNI kembali aktif. Namun, pada tahun 1953, tugas BNI sebagai bank sentral memudar setelah pemerintah mengambil alih DJB dan mengubahnya menjadi Bank Indonesia. Pada tahun 1968, status BNI sebagai bank sentral resmi dicabut dan diubah menjadi bank pelat merah.
BNI Menjadi BUMN
BNI kemudian diberi mandat untuk memperbaiki ekonomi rakyat dan berpartisipasi dalam pembangunan nasional, yang dikukuhkan oleh UU No. 17 tahun 1968 tentang Bank Negara Indonesia 1946. Pada tanggal 29 April 1992, bentuk hukum BNI disesuaikan menjadi Perusahaan Perseroan Terbatas (Persero).
Selain menghimpun dan menyalurkan dana, BNI juga memegang peranan penting dalam sejarah keuangan bangsa dengan menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) sebagai alat pembayaran resmi pertama negara.
BNI tidak hanya menjadi bank nasional pertama RI, tetapi juga menjadi bank BUMN pertama yang menjadi perusahaan publik setelah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1996.
Untuk memperkuat posisinya di industri perbankan nasional, BNI melakukan sejumlah aksi korporasi, termasuk rekapitalisasi oleh pemerintah pada tahun 1999, divestasi saham pemerintah pada tahun 2007, dan penawaran umum saham terbatas pada tahun 2010.
Transformasi Terkini
BNI kini memiliki sejumlah entitas anak, seperti BNI Multifinance, BNI Sekuritas, BNI Life Insurance, BNI Ventures, BNI Remittance, dan PT Bank Hibank Indonesia (hibank).
Dalam beberapa tahun terakhir, BNI terus melakukan transformasi digital, salah satunya melalui super app "wondr by BNI", yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan layanan keuangan digital secara inklusif. Platform ini menjadi bagian dari strategi BNI dalam menjangkau lebih banyak segmen masyarakat dengan layanan yang cepat, efisien, dan aman.





