Ekonomi – Bank Indonesia (BI) kembali membuat gebrakan dengan menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate. Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada September 2025, di mana suku bunga dipangkas 25 basis poin (bps) menjadi 4,75%. Sepanjang tahun ini, BI telah menurunkan suku bunga sebanyak lima kali.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan upaya bersama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. "Keputusan ini sejalan dengan upaya bersama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menjaga tetap rendahnya prakiraan inflasi 2025 dan 2026 dalam sasaran 2,5±1% dan stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya," ujarnya dalam konferensi pers daring, Rabu (17/9/2025).

Sebelumnya, BI telah memangkas suku bunga masing-masing 25 bps pada Januari, Mei, Juli, dan Agustus 2025. Dengan penurunan terbaru ini, total penurunan suku bunga BI Rate sepanjang tahun 2025 mencapai 125 bps. Ini menjadi pemangkasan paling agresif sejak krisis pandemi Covid-19 melanda.
Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir (2011-2025), BI hanya pernah memangkas suku bunga sebesar 100 bps hingga Agustus pada tahun 2016 dan 2020. Langkah agresif ini menunjukkan urgensi untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sempat melambat.
Pada tahun 2016, pemangkasan suku bunga dilakukan karena inflasi rendah dan nilai tukar rupiah menguat, namun ekonomi lesu. Sementara pada tahun 2020, kebijakan dovish diperlukan karena pandemi Covid-19 menyebabkan resesi global.
Tahun ini, Indonesia juga menghadapi tantangan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi setelah sempat mengalami stagnasi. Meskipun ekonomi Indonesia tumbuh 5,12% (yoy) pada kuartal II-2025, sejumlah indikator menunjukkan bahwa ekonomi masih perlu didorong lebih lanjut.
Ke depan, Dewan Gubernur BI akan terus mencermati prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi. BI juga akan memanfaatkan ruang penurunan suku bunga BI-Rate dengan mempertimbangkan stabilitas nilai tukar Rupiah. Ekspansi likuiditas moneter dan kebijakan makroprudensial longgar akan terus diperkuat untuk menurunkan suku bunga, meningkatkan likuiditas, dan mendorong kredit/pembiayaan bagi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.





